Published 17/05/2017

(Oleh Arlini Dyah R.)

 

Beberapa bulan terakhir ini, sering terjadi hujan es di beberapa kota di Indonesia. Hujan es turun bersamaan dengan terjadinya hujan lebat disertai petir dan angin kencang serta terjadi dalam jangka waktu yang singkat. Apabila diperhatikan hujan es ini terjadi ketika peralihan musim, menjelang musim kemarau. Muncul pertanyaan di benak kita, `Apakah penyebab turunnya hujan es?`, `Mengapa terjadi hujan es di daerah tropis?` 

 

Sejenak kita perhatikan tanda-tanda akan terjadi hujan es:

  • Suhu udara pada satu hari sebelum turun hujan es terasa panas dengan tingkat kelembaban udara yang tinggi, sehingga terasa gerah;
  • Terlihat awan kumulus (awan putih yang berlapis-lapis) yang kemudian awan tersebut akan cepat berubah menjadi awan komulonimbus (warna menjadi abu-abu/hitam);
  • Suhu udara yang dingin sesaat sebelum turun hujan es;
  • Hujan yang pertama kali turun merupakan hujan deras secara tiba-tiba disertai angin kencang dan petir.

 

Apabila dicermati, terjadi perubahan kondisi suhu yang cepat pada saat sebelum turun hujan, dari suhu yang panas kemudian tiba-tiba menjadi dingin. Perubahan ini yang memicu timbulnya hujan es. Hujan es umumnya terjadi di daerah yang beriklim sedang, namun tidak menutup kemungkinan terjadi di daerah tropis seperti Indonesia. Lalu apa penyebab terjadinya hujan es?

Beberapa faktor penyebab hujan es adalah:

(i). tersedia energi potensial di udara;

(ii). tersedia kelembaban udara yang cukup tinggi;

(iii). udara yang lembab tersebut berada di bawah udara kering.

Oleh karena itu, di Indonesia, sebagai negara tropis yang memiliki kelembaban udara yang cukup tinggi, juga berpotensi terjadi hujan es seperti di negara beriklim sedang. Hujan es yang terjadi di Indonesia tidak berbahaya karena ukurannya hanya sebesar kristal, tidak seperti hujan es yang terjadi di negara-negara beriklim sedang. Ukuran hujan es di negara beriklim sedang biasanya lebih besar dari kristal sehingga berpotensi menimbulkan kerusakan fisik. Di negara tropis, energi potensial di udara penyebab terjadinya hujan es berasal dari Samudra Hindia, kemudian bertemu dengan hembusan angin gunung dan angin Benua Asia yang memiliki suhu yang tidak jauh berbeda.

AWAN CUMULONIMBUS

Hujan es turun dari tumpukan awan komulonimbus. Terjadinya awan komulonimbus merupakan bagian dari siklus hidrologi. Proses pemanasan air laut oleh sinar matahari menghasilkan uap air yang naik ke atmosfer dan membentuk awan pada ketinggian tertentu, dimana suhu udara di atas semakin dingin. Hembusan angin membawa awan-awan yang kecil berkumpul menjadi awan yang lebih besar kemudian menjadi tumpukan awan yang tebal, yang dikenal dengan awan kumulus yang dapat berubah menjadi awan komulonimbus. Tumpukan awan ini (awan komulonimbus) berisi materi berupa air, es dan muatan listrik berupa petir. Karena ketebalannya, awan komulonimbus ini akan mencapai lapisan atmosfer yang lebih atas dengan suhu yang lebih dingin. Pada kondisi tertentu tumpukan awan komulonimbus akan menjadi jenuh, dan dengan tekanan yang semakin tinggi dan suhu yang semakin dingin maka awan komulonimbus ini akan jatuh ke permukaan bumi menjadi hujan lebat maupun hujan es. Ketika materi es dalam awan komulonimbus belum sempat mencair, maka akan turun hujan es di permukaan bumi. Begitulah fenomena alam hujan es yang akhir-akhir ini kerap terjadi di beberapa daerah di Indonesia.